Search
  • bettytjiptasari

Manusia sebagai makhluk yang kompleks



Pernahkah Anda berpikir bahwa manusia adalah makhluk yang sangat kompleks? Bahwa Anda pernah satu kali, sebagai makhluk yang kompleks, tidak dapat memahami diri sendiri dan tidak memahami mengapa Anda melakukan hal yang Anda tidak ingin lakukan. Anda mungkin mendengar seseorang berkata, "Saya tidak tahu mengapa saya melakukan hal ini lagi dan lagi, dan saya tidak bisa menghentikan diri saya sendiri meski berusaha keras". Ada beberapa teori dalam psikologi yang menjelaskan mengapa kita “melakukan” atau “tidak melakukan” apa yang kita lakukan. Sebuah teori klasik yang paling tua dalam psikologi memberikan penjelasan bahwa perilaku kita dipengaruhi oleh kesadaran, sub-kesadaran, dan ketidaksadaran kita. Teori ini mengatakan bahwa kadang-kadang perilaku kita didorong oleh sub-kesadaran atau ketidaksadaran kita sehingga kita tidak selalu melakukan sesuatu di area kesadaran. Namun di kemudian hari para ahli menemukan kelemahan dari teori tersebut. Mereka tidak setuju dengan teori seperti itu karena manusia dapat memilih perilaku mereka saat ini dan perilaku manusia tidaklah selalu ditentukan oleh libido kita, oleh masa lalu kita, atau oleh sub-kesadaran / ketidaksadaran kita. Teori lain yang kemudian muncul adalah teori tentang eksistensi manusia, yang menjelaskan bahwa perilaku manusia didorong oleh kebutuhan kita akan eksistensi atau kebutuhan untuk “ada”. Tapi tetap saja, sampai sekarang, ada begitu banyak hal tentang psikologi manusia yang tidak sepenuhnya dapat kita pahami. Contohnya mengapa seseorang berperilaku sangat berbeda dari yang biasanya dia lakukan suatu waktu, atau perilakunya bertentangan dengan kepribadiannya dalam konteks sosial tertentu, atau dalam situasi lain seseorang berperilaku serupa dengan orang lain yang memiliki kepribadian dan latar belakang yang sama sekali bertolak belakang. Seringkali kita tidak memahami kompleksitas berbagai faktor yang dapat memengaruhi perilaku manusia dan mengapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan. Ada begitu banyak teori psikologi yang menjelaskan perilaku manusia, namun ada begitu banyak hal tentang perilaku manusia yang tetap menjadi misteri.

Alkitab menyebutkan bahwa manusia memang makhluk yang kompleks. Lihatlah Amsal 18:14, “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya (atau dapat diterjemahkan “roh manusia dapat menopangnya dalam penyakit, kesakitan tubuh, atau masalah”-penulis), tetapi siapakah yang memulihkan semangat yang patah (semangat yang patah dapat diterjemahkan roh yang terluka atau hancur-penulis)” (TB). Ketika saya membaca ayat ini saya ingat bahwa saya telah melihat dan bertemu banyak orang yang masih hidup tetapi sebenarnya sudah mati di dalam jiwanya. Mereka tidak menghidupi kehidupan, meskipun tetap menjalani hidup sehari-hari mereka. Mereka kehilangan keinginan untuk hidup, kehilangan harapan, dan merasa tak berdaya. Tetapi saya juga telah bertemu orang-orang, yang telah melalui begitu banyak pengalaman yang begitu buruk namun dapat bertahan hidup dan bahkan bangkit kembali. Bagaimana kita dapat menjelaskan bahwa satu orang dapat bertahan dan bangkit kembali, tetapi orang lain dihancurkan oleh pengalaman yang pahit itu? Di luar apa yang telah saya pelajari dalam psikologi, Alkitab memberi saya pemahaman yang hilang yang menjelaskan kompleksitas manusia. Salah satu faktor yang mendorong perilaku manusia yang saya temukan dalam Alkitab adalah roh manusia dan eksistensi dasar manusia (sumber keber-“ada”-an manusia). Alkitab menjelaskan bahwa manusia memiliki roh manusia yang diciptakan oleh Tuhan Allah. Namun, sejak manusia jatuh ke dalam dosa, roh manusia menjadi rusak dan manusia tidak dapat mengakses pohon kehidupan (yang adalah sumber “hidup roh” manusia) di Taman Eden atau surga (Kejadian 1-3). Roh manusia yang menopang kehidupan batiniah manusia telah hancur! Tetapi Tuhan melakukan sesuatu untuk menyembuhkan roh kita yang patah/hancur. Mazmur 34:19 mengatakan bahwa “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan IA menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwa(roh)nya” (TB). Dan ini yang membuatnya manusia berbeda satu dari yang lain, dan berbeda juga dari makhluk lain! Ketika roh dihancurkan, tidak ada manusia yang bisa menanggung rasa sakit dan penderitaan (akibat dosa). Tetapi bagi mereka yang memiliki hubungan dengan Tuhan, roh Tuhan menyembuhkan roh mereka, dan oleh karena itu mereka dapat menanggung masalah dan rasa sakit apa pun! Namun, Alkitab juga menunjukkan bahwa penderitaan yang kita alami juga tidak bisa dijelaskan sesederhana itu. Psikologi manusia tidak hanya terkait dengan spiritualitas manusia saja. Psikologi manusia lebih rumit dari sekedar kondisi spiritualitas kita!Amsal 14:30 mengatakan bahwa “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang” (TB). Artinya hati yang dipulihkan (tenang) memberi kehidupan (bahasa asli “kehidupan” mirip dengan “pohon kehidupan” di Taman Eden) kepada tubuh. Dalam ayat ini kita menemukan manusia terdiri dari hati (emosi dan batin), pohon kehidupan (makhluk spiritual), dan tubuh (makhluk fisik). Dan ketiga bagian diri kita ini saling memengaruhi. Amsal 15:13 mengatakan bahwa “Hati yan gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat” (TB). Artinya hati (psikologi manusia) yang sehat membuat tubuh kita tampak relaks, dan hati (psikologi manusia) yang sakit/terluka menghancurkan roh manusia. Ayat ini juga menunjukkan tiga bagian dari keberadaan kita; hati, tubuh, roh. Dalam ayat lain, kita juga menemukan bahwa manusia juga makhluk moral. Dan kita dapat menemukan hubungan antara emosi, perilaku, dan moral dalam Amsal 28:1, “Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda” (TB). Perilaku kita (untuk melarikan diri) dipengaruhi oleh kesadaran moral kita (kejahatan/kefasikan), dan kesadaran moral kita (kebenaran) memberi pengaruh kepada emosi kita (merasa aman). Tetapi kemudian kita juga menemukan bahwa perilaku dan emosi manusia dapat bertolak belakang, yaitu dalam Amsal 14:13, “Di dalam tertawa pun hati dapat merana, dan kesukaan dapat berakhir dengan kedukaan” (TB). Ini menunjukkan betapa rumitnya emosi dan perilaku manusia, karena perilakunya tertawa tapi hatinya merana. Amsal 14:10 mengatakan bahwa “Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya” (TB). Ayat ini menunjukkan bawha kita sebagai makhluk individu, adalah sendiri dan terpisah dari orang lain, orang lain tidak akan dapat merasakan persis sama apa yang ada di hati kita. Ayat ini juga menyiratkan bahwa kita adalah sekaligus makhluk individual, yang terpisah dan sendiri, dan sekaligus makhluk sosial, yang ingin orang lain mengerti kita. Kita terpisah satu sama lain sebagai makhluk individu, tetapi kita mencari hubungan emosional dengan orang lain sebagai makhluk sosial. Dari ayat-ayat ini saja, kita dapat menemukan begitu banyak hal tentang manusia, bahwa kita adalah individu dan sosial pada saat yang bersamaan, sehingga perilaku, emosi, roh, dan moralitas kita dapat saling mempengaruhi, dan bahwa perilaku kita dapat berbeda dari apa yang ada di hati kita. Di luar apa yang dapat saya temukan dalam psikologi sekuler, adalah wahyu Alkitab tentang asal usul roh manusia atau keberadaan manusia. Ini unik dan di luar jangkauan kita untuk mengujinya secara empiris karena berkaitan dengan kisah penciptaan dalam Kejadian 1-3.

Kejadian 1-3 menjelaskan keber-ada-an (eksistensi) manusia di luar teori humanisme eksistensialis. Asal mula keberadaan (eksistensi) kita ini menopang eksistensi kita sebagai manusia dan memberi makna dalam segala hal yang kita lakukan setiap hari. Keber-ada-an kita sebagai manusia dimulai di Taman Eden. Di Taman Eden (atau surga) kita dapat menemukan pohon kehidupan, pohon yang memberi kehidupan kepada roh manusia. Pohon kehidupan Allah ini adalah asal mula roh manusia, asal mula keberadaan (eksistensi) kita. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, roh manusia menjadi hancur/rusak dan manusia harus meninggalkan Taman Eden. Manusia tidak bisa lagi berada di hadirat Tuhan. Ketika roh manusia, yang menopang kita, menjadi hancur, kita mengalami begitu banyak rasa sakit dan penyakit yang seringkali tidak dapat kita tanggung (Amsal 18:14). Tetapi Tuhan menjanjikan solusi bagi manusia. Dia berjanji bahwa suatu hari, akan mungkin bagi roh manusia untuk dipulihkan dan manusia akan dapat berada di hadirat Tuhan Allah kembali, dan dapat kembali ke Taman Eden untuk memiliki kehidupan dan hubungan dengan Allah yang Kudus lagi. Allah membuat perjanjian progresif yang Dia ungkapkan kepada Adam dan Hawa (Kejadian 3:15), Abraham (Kejadian 12: 2-3), Ishak, Yakub (Kejadian 26: 1-5), David (2 Samuel 7:16), melalui para nabi seperti dalam Yesaya 7:14, 9: 6-7, 53: 1-12, 61: 1-3. Janji-janji itu merujuk pada Mesias yang mati di kayu salib dan bangkit dari kematian. Yesaya 61: 3 merujuk kepada Kristus yang membuat kita menyanyikan pujian alih-alih dari roh keputusasaan, dan membuat kita menjadi pohon kebenaran, pohon-pohon Allah, untuk menunjukkan kemegahan Allah. Ia memulihkan roh manusia yang sudah hancur/rusak tadi (Mazmur 34:18). Tuhan memberi kita Roh yang menguatkan jiwa (inner being) kita. Amsal 15:13 mengatakan bahwa 'hati yang bahagia' (makhluk batiniah/inner being yang sehat) dapat menangani semua keadaan dalam kehidupan, dan seperti yang juga disebutkan dalam Efesus 3:16. Tuhan aktif memulihkan roh manusia yang telah dihancurkan dan mengembalikan dasar asal mula keberadaan (eksistensi) kemanusiaan kita.

Saya ingat ketika saya belajar konseling Kristen di Seminari Alkitab Asia Tenggara di Indonesia, guru saya pernah mengajukan pertanyaan yang sangat mendalam tentang bagaimana saya membangun eksistensi saya sebagai seorang individu. Dia bertanya, "Siapa kamu tanpa gunting kebunmu?" Dia menggambarkan saya sebagai orang yang suka memperbaiki hal-hal (atau lebih tepatnya; orang-orang) yang rusak dan membuat hal-hal (atau kehidupan orang) menjadi indah kembali, seperti tukang kebun dengan gunting kebun. Dan gambaran dosen saya tersebut tentang saya adalah benar, karena pada waktu itu saya menghubungkan eksistensi saya dengan apa yang saya lakukan atau dengan hal terbaik yang dapat saya lakukan. Tetapi ketika gunting kebun diambil dari saya, siapa saya dan apa saya? Itu pertanyaan besar bagi saya. Saya berjuang selama beberapa tahun untuk menemukan jawaban terhadap pertanyaan “Siapakah dan apakah saya ini tanpa apa pun di tangan saya?” Sampai di kemudian hari Tuhan mengungkapkan melalui beberapa teman dan orang asing di beberapa kesempatan; “siapa saya di mata-Nya”. Suatu kali seorang teman memberi tahu saya, "Kamu juga adalah permata Tuhan!" Dan saya terkejut mendengar komentar itu. Dalam percakapan lain dengan mentor saya, mentor saya mengatakan kepada saya, "Betty, kamu harus ingat bahwa kamu juga adalah permata-Nya!" Kalimat itu menusuk hati saya. Dan kemudian dalam kelompok doa dengan sekelompok orang asing yang baru saja saya temui di Bali, dalam sesi doa mereka semua mengatakan kepada saya berbagai pesan yang mereka dapatkan dari Tuhan yang sama, bahwa saya adalah permata-Nya dan Dia memastikan bahwa saya aman di tangan-Nya! Itu adalah wahyu yang luar biasa yang menjelaskan tentang asal usul eksistensi saya dan apa yang telah Tuhan lakukan, sedang lakukan, dan akan lakukan dalam diri saya dan melalui saya. Saya bisa menemukan asal saya sebagai karya agung Tuhan. Tuhan telah menciptakan saya, telah mengambil saya dari kedalaman bumi yang gelap, memotong dan mengasah saya, dan akan menggunakan saya untuk menyinarkan kemuliaan-Nya. Dan itu semua dimulai oleh karunia Yesus, pohon kehidupan yang membuat saya dapat datang ke hadirat-Nya, di Taman Eden.

Psikologi memiliki teori tentang eksistensi manusia, tetapi ribuan tahun sebelum ilmu psikologi lahir Musa telah menulis tentang asal mula eksistensi manusia dalam bahasa dan terminologi yang berbeda. Alkitab bahkan telah menjelaskan secara lebih dalam tentang asal usul eksistensi manusia. Dasar yang sangat kuat dari asal mula keberadaan manusia yang tidak akan pernah bisa diguncang dan yang abadi. Roh manusia yang kuat, yang merupakan batin (inner being) kita, dapat menopang kita dari segala kesusahan dan kesulitan (Amsal 18:14, 17:22). Dasar keberadaan kita sebagai manusia adalah kasih mula-mula antara kita dan Tuhan dan dengan sesama manusia. Atas dasar kasih (agape) ini kita membangun keintiman yang sempurna dengan Tuhan dan sesama manusia. Adalah tiga dasar kehidupan di Taman Eden yang memberi kita sukacita tertinggi, yaitu sukacita yang tidak bisa dihancurkan oleh situasi apa pun; kebahagiaan abadi, kasih abadi, dan kehidupan abadi. Namun, sejak manusia jatuh ke dalam dosa, kebahagiaan, kasih, dan kehidupan abadi ini bukan milik manusia lagi. Manusia diusir dari Taman Eden yang kekal, dan tinggal di dunia yang hanya mengenal sukacita yang sementara, kasih yang sementara, dan kehidupan yang sementara yang dapat dengan mudah dihancurkan. Di dunia yang sementara ini, kita dapat saling melukai dan kita dapat dilukai oleh manusia lain. Kita juga dapat dengan mudah terluka atau menderita karena segala macam penyebab alami. Psikologi atau jiwa kita, dan tubuh kita rentan untuk terluka dan rentan untuk menjadi hancur di dunia ini.

Roh kehidupan (hati/batin/roh) dalam bahasa Ibrani digunakan juga untuk jiwa dan angin yang memiliki kekuatan, energi, kekuatan, semangat untuk hidup, dan energi emosional. Roh yang hancur, sebaliknya, memiliki makna "tidak ada keinginan dalam hidup, tidak ada keinginan untuk berurusan dengan kehidupan, atau keputusasaan". Ketika roh manusia dihancurkan, batinnya juga hancur. Dan ketika batin kita hancur, kita tidak akan mampu menanggung masalah dalam hidup kita. Oleh karena itu, masalah dalam perilaku manusia tidak hanya terkait dengan masalah moral, kerohanian, sosial-emosional, atau masalah mental saja. Alkitab menjelaskan bahwa masalah manusia lebih kompleks dari pada itu. Psikologi dapat menjelaskan apa dan bagaimana manusia dapat memiliki masalah perilaku atau mental, tetapi psikologi tidak dapat menawarkan solusi tertentu untuk banyak kasus dan untuk memperbaiki masalah manusia. Psikologi tidak dapat menjelaskan secara lengkap mengapa satu solusi untuk satu perilaku manusia dapat menolong satu individu tertentu tetapi tidak berlakuu untuk individu yang lain dengan penyakit atau masalah mental yang sama. Alkitab memberi saya potongan teka-teki yang hilang dalam memahami psikologi manusia. Menggabungkan pengetahuan Alkitab dan psikologi membantu saya mendapatkan gambaran lengkap tentang perilaku manusia dan kompleksitas batin manusia.

Contoh kasusnya adalah masalah kesepian. Kesepian telah menjadi masalah besar di mana-mana dan bagi semua orang di masyarakat modern atau pasca-modern kita. Psikolog sosial menjelaskan bahwa karena kita membutuhkan hubungan sosial dan kita tidak mendapatkan koneksi sosial ini, kita menjadi kesepian. Teori evolusi dalam psikologi menjelaskan bahwa manusia membutuhkan koneksi sosial untuk bertahan hidup, dan kesepian adalah alarm untuk mendapatkan koneksi itu. Dan apa yang dikatakan Alkitab? Amsal 14:10 mengatakan bahwa setiap hati mengetahui kepahitannya sendiri, dan tidak ada orang lain yang dapat merasakan dengan sungguh-sungguh suka cita yang ada dalam hati kita. Alkitab menyatakan bahwa keberadaan batin kita memang terpisah dari keberadaan batin orang lain. Batin kita terpisah dan tersendiri dari siapa pun. Kita tidak dapat memahami diri kita sendiri dan tidak ada manusia lain yang dapat memahami kita sepenuhnya dengan sempurna. Hanya Tuhan yang menciptakan kita yang bisa memahami kita dengan sempurna. Kita dapat benar-benar kesepian tanpa hubungan kita dengan Roh Allah, karena bahkan keluarga atau teman terdekat kita tidak dapat memahami kedalaman batin kita, dan tidak dapat bersama-sama kita untuk tinggal di dalam ruang batin kita. Tidak ada yang bisa memasuki ruangan itu kecuali Tuhan, dan kita memiliki keinginan untuk mengisi kekosongan di ruangan itu. Kerinduan terdalam manusia adalah untuk mendapatkan keutuhan hidup, keintiman yang sempurna dengan Tuhan dan dengan manusia lainnya. Itu adalah kerinduan terhadap pohon kehidupan, sumber satu-satunya yang dapat memenuhi kekosongan manusia. Meskipun kita memiliki cukup banyak teman dan hubungan yang baik, kita masih akan mengalami kesepian karena kita terputus dari pohon kehidupan (Taman Eden). Tetapi pohon kehidupan ini tidak terlepas dari hubungan kasih kita dengan Tuhan dan dengan sesama manusia. Eksistensi spiritual, sosial, dan individu hadir pada saat yang sama dalam kemanusiaan kita, masing-masing memiliki kebutuhan yang berbeda untuk dipenuhi pada saat yang sama, dan semua bekerja pada saat yang sama dalam tarian yang begitu indah di dalam keberadaan kita. Tarian yang dapat ditampilkan dengan indah hanya melalui kerja keras dari latihan yang panjang. Dan bahkan setelah kita menguasai gerakan menari, kita masih dapat tersandung dan merusak keindahannya karena dosa kita. Kita adalah makhluk unik yang kompleks, diciptakan oleh Tuhan yang sangat kreatif, yang ingin melihat keindahan-Nya yang sempurna di dalam kita, tetapi kita telah jatuh ke dalam dosa dan dosa merusak keindahan kita. Kecantikan kita yang rusak, Tuhan ingin pulihkan! Dia telah bekerja di dalam kita, Dia sedang bekerja di dalam kita, dan Dia akan terus bekerja di dalam kita sampai kita kembali ke Taman Eden.


1,097 views0 comments